Mengapa Siswa Gagal? Pena Nurul Fikri 2 minggu yang lalu

Mengapa Siswa Gagal?

Ditulis Oleh: Ust. Edy Wiyono, S.Pd (Kepala Koordinator Kurikulum - Departemen Penelitian dan Pengembangan Mutu Nurul Fikri Boarding School Serang)

 

Sebuah refleksi setelah membaca buku dengan judul “Mengapa Siswa Gagal”. Buku ini bermula dari catatan harian seorang guru yang bernama John Holt (1927 – 1985) yang berisi pengalaman mengajar dari tahun waktu 1958 sampai 1961.

 

Aku Mengajar, tetapi Siswa Tidak Belajar.

Studi kasus dalam pembelajaran menulis, guru mengharuskan siswa tidak membuat lebih dari tiga kesalahan dalam satu halaman, ternyata perbaikan kedua dan ketiga justru kesalahan bertambah. Penyebabnya karena anak cemas sehingga kurang konsentrasi untuk mengulang tulisannya, solusinya guru perlu memberikan bimbingan dan motivasi siswa dalam melakukan perbaikan. selanjutnya akan terjadi “guru mengajar, siswa belajar” dan selanjutnya “siswa belajar, guru membantu siswa untuk belajar”. Ketika guru mampu mengaktifkan siswa untuk menggunakan potensi yang dimilikinya, siswa akan mendapatkan pembelajaran yang bermakna. Siswa mendapatkan manfaat apa yang dipelajarinya dan dapat mengkaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

 

Apakah Kesuksesan Siswa ditunjukkan dengan Nilai yang Tinggi?

Salah satu cara agar siswa  mendapatkan nilai yang bagus, guru menceritakan dengan detail materi apa yang akan muncul dalam ujian bahkan memberikan soal latihan yang mirip dengan soal yang akan diujikan. Walaupun hal ini tidak menjamin semua anak dapat mengerjakan dengan baik. Ada saja anak yang kurang perhatian dan menyepelekannya, sehingga nilainya jeblok.

Teknik mengajar “ajari kemudian ujikan” membuat kebanyakan siswa semakin bingung, lalu kemudian sadar bahwa kesuksesan akademik didasarkan pada landasan yang rapuh karena pembelajaran yang tidak bermakna untuk mendapatkan jawaban yang tidak bermakna dari pertanyaan yang juga tidak bermakna.

 

Hal tersebut berkaitan dengan proses pembelajaran dengan strategi membuat siswa menjadi “produser” atau “pemikir”. Produser merupakan istilah dari John Holt yang berarti siswa hanya tertarik untuk mendapatkan jawaban akhir yang tepat dalam menjawab soal dan tidak menggunaan konsep dalam menemukan jawabannya. Sedangkan tipe siswa pemikir adalah siswa yang berpikir kritis berdasarkan pemahaman konsep yang dipelajarinya, lalu menggunakan konsep itu untuk menyelesaikan masalah. Kesimpulannya, dalam pembelajaran, “proses” lebih penting daripada “hasil akhir”.

 

 

Mengapa Siswa Gagal?

Sekolah cenderung menjadi tempat tidak nyaman bagi siswa. Guru menampilkan diri di hadapan siswa bak seorang dewa yang tahu segalanya, sok berkuasa, pasti adil, dan selalu benar. Hal ini dapat menyebabkan anak tidak mampu mengekpresikan diri dalam pembelajaran, bahkan bisa terjadi kebekuan otaknya dikarenakan rasa takut, bosan, dan bingung. Mereka takut mengecewakan banyak orang dewasa di sekitar mereka, bosan karena banyak hal-hal yang mereka terima di sekolah bersifat sepele dan kurang bermakna, mereka juga bingung karena apa yang dipelajari di kelas tidak memiliki hubungan dengan apa yang mereka ketahui dalam realitas kehidupan sehari hari.

Selain itu, dibalik kegagalan siswa dikarenakan guru berusaha menjejali sebanyak mungkin materi yang ia ajarkan yang harus diketahuinya, terlepas apakah pembelajaran itu menarik dan memberikan manfaat bagi siswa.

 

Untuk itu pendidik harus menciptakan proses pembelajaran yang efektif, sehingga para siswa dalam menjalani proses belajar lebih merasa nyaman dan senang. Pembelajaran berpusat pada siswa, siswa perlu dimotivasi agar lebih aktif di kelas, dan guru hanya sebagai falitator untuk membantu siswa belajar. Sehingga sekolah menjadi tempat setiap anak untuk mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan dan talentanya, mengejar minatnya, dan dapat mengambil manfaat dari pembelajaran sebagai bekal masa depannya.  

 

Semoga tulisan ini bisa sebagai renungan untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, membuat siswa lebih aktif, dan siswa merasakan manfaat dari pembelajaran yang diikutinya.

Wallahu a’lam.