Pernah nggak sih, kamu lagi asyik ngobrol di kamar asrama, tiba-tiba teman sekamarmu dari daerah lain nyeletuk dengan logat yang kedengarannya lucu banget? Atau mungkin kamu kaget saat melihat temanmu makan dengan porsi cabai yang bikin geleng-geleng kepala?
Selamat! Itu tandanya kamu sedang berada di "miniatur" Indonesia. Hidup di boarding school atau pesantren itu ibarat masuk ke dalam laboratorium raksasa yang isinya bukan zat kimia, melainkan manusia dengan latar belakang yang super beragam.
Indonesia itu bukan cuma luas wilayahnya, tapi juga "kaya" banget isinya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), negara kita ini punya lebih dari 1.340 suku bangsa. Kebayang nggak? Dari Sabang sampai Merauke, kita punya ribuan cara bicara, ribuan jenis masakan, dan ribuan kebiasaan unik.
Nah, di boarding school, ribuan perbedaan itu diperas dan dikumpulkan dalam satu gedung bernama asrama. Kamu nggak perlu keliling Indonesia buat belajar budaya; cukup duduk di depan loker, kamu sudah bisa kenalan sama kawan dari suku Jawa, Sunda, Bugis, Minang, hingga Papua.
Di pesantren, perbedaan budaya biasanya muncul pada hal-hal yang sifatnya harian. Yuk, kita intip apa saja yang sering bikin santri baru merasa "asing":
Logat dan Dialek (The Sound of Indonesia)
Ada teman yang bicaranya pakai nada tinggi dan cepat (dikira marah, padahal memang begitu aslinya), ada yang medok banget sampai huruf "b" dan "d"-nya kedengaran tebal, ada juga yang bicaranya halus sampai nyaris nggak kedengaran.
Standar Kuliner
"Kok sambalnya manis?" atau "Kok sayurnya hambar?" Perdebatan soal rasa makanan asrama adalah bumbu penyedap dalam pertemanan.
Kebiasaan Harian
Ada daerah yang terbiasa mandi subuh dengan air dingin, ada yang harus pakai air hangat. Ada yang terbiasa bicara to the point, ada yang muter-muter dulu demi kesopanan.
Mari kita ambil contoh kecil. Bayangkan ada santri baru dari Jawa Tengah bernama Budi dan santri dari Sumatra bernama Ucok. Suatu hari di kantin, Budi bilang ke Ucok, "Ucok, jangan dimakan." (Maksud Budi: Sayur lodeh ini jangan dimakan karena sudah dingin/basi).
Tapi Ucok bingung, karena dalam bahasa Jawa, "Jangan" itu artinya "Sayur". Ucok malah mengira Budi sedang menawarkan sayur padanya. Alhasil, terjadi salah paham kecil yang berakhir dengan tawa renyah setelah mereka saling menjelaskan maksud masing-masing. Di sinilah letak serunya!
Gimana sih caranya biar kita nggak jadi santri yang kuper atau malah menyinggung perasaan orang lain? Ini tipsnya:
Jadikan Logat Sebagai Kekayaan, Bukan Bahan Ejekan
Mendengar teman bicara dengan logat daerah memang sering bikin senyum. Tapi, pastikan senyummu adalah senyum kagum, bukan ejekan. Menertawakan logat orang lain itu Big No! Justru seru kalau kamu mencoba belajar satu-dua kata dari bahasa daerah mereka.
Open Minded (Buka Pikiran)
Jangan merasa budayamu adalah yang paling benar atau paling keren. Dunia ini luas, Bro! Kalau temanmu punya kebiasaan yang beda, coba tanya alasannya. Siapa tahu ada filosofi keren di baliknya.
Prinsip "Tabayyun" (Klarifikasi)
Kalau ada kata-kata teman yang terdengar kasar atau menyinggung, jangan langsung "baper" (bawa perasaan). Bisa jadi itu cuma masalah perbedaan istilah. Tanya dulu maksudnya apa. Di pesantren, komunikasi adalah kunci.
Empati adalah Koentji
Bayangkan kalau kamu yang berada di posisi mereka, merantau jauh ke pulau orang dan merasa asing. Tentu kamu ingin disambut dengan hangat, kan?
Menjadi santri boarding school adalah kesempatan emas yang nggak semua remaja punya. Kamu dilatih bukan cuma buat pintar baca kitab atau hafal Al-Qur'an, tapi juga dilatih buat jadi warga dunia yang toleran.
Perbedaan bukan penghalang buat kita kompak. Justru karena warna kita beda-beda, pelangi itu jadi indah, kan? Ingat, di mata Allah SWT, yang paling mulia adalah yang paling bertakwa, bukan yang sukunya paling dominan atau logatnya paling keren.
Jadi, buat kamu yang sekarang lagi di asrama, yuk mulai lebih akrab sama teman yang beda pulau. Tanya hobi mereka, cobain camilan khas daerah mereka, dan bangun persahabatan yang melampaui batas-batas suku bangsa. Karena kelak, saat kalian sudah lulus, kenangan tentang "lucunya perbedaan" inilah yang bakal paling dirindukan.
Salam Santri, Salam Toleransi!