Surat Terbuka untuk Pengelola Dana Haji oleh Ust. Andriono Kurniawan,M.Pd Pena Nurul Fikri

Surat Terbuka untuk Pengelola Dana Haji oleh Ust. Andriono Kurniawan,M.Pd

Tentang Amanah yang Dititipkan Selama Puluhan Tahun

Kepada para pengelola dana haji yang saya hormati,

Saya menulis surat ini bukan sebagai ahli ekonomi, bukan pula sebagai pengamat kebijakan publik. Saya menulis sebagai seorang Muslim biasa yang memiliki satu mimpi sederhana: suatu hari nanti dapat memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci.

 

Ketika saya mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji, saya memahami bahwa perjalanan ini membutuhkan kesabaran. Saya sadar bahwa antrean panjang adalah konsekuensi dari besarnya jumlah umat Islam di Indonesia. Karena itu saya bersedia menunggu. Sepuluh tahun, dua puluh tahun, bahkan mungkin lebih lama dari yang saya bayangkan.

 

Namun selama masa penantian itu, ada satu hal yang selalu saya percayakan kepada negara dan para pengelola dana haji: amanah.

 

Dana yang saya setorkan mungkin tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan keseluruhan dana haji yang mencapai ratusan triliun rupiah. Namun bagi saya dan keluarga, dana itu adalah hasil kerja keras yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Ada pengorbanan di baliknya. Ada kebutuhan yang ditunda. Ada impian yang disimpan rapat-rapat demi satu tujuan mulia: beribadah ke Baitullah.

 

Karena itu, izinkan saya bertanya dengan sederhana. Jika dana yang saya titipkan berkembang selama bertahun-tahun, bukankah wajar jika saya berharap hasil pengembangannya juga menjadi bagian dari hak saya?

 

Saya sering mendengar istilah subsidi silang antargenerasi jamaah. Mungkin istilah itu benar secara teknis. Namun sebagai masyarakat awam, saya lebih mudah memahami satu prinsip sederhana: apa yang berasal dari dana jamaah seharusnya kembali untuk kepentingan jamaah secara adil dan transparan.

 

Saya tidak meminta keistimewaan. Saya juga tidak menuduh siapa pun melakukan kesalahan. Saya hanya berharap ada sistem yang memungkinkan setiap calon jamaah mengetahui dengan jelas berapa dana yang dimilikinya, berapa hasil pengembangannya, dan bagaimana manfaat tersebut digunakan.

 

Di sinilah konsep Individual Account terasa menarik untuk dipertimbangkan. Dengan sistem tersebut, setiap jamaah memiliki catatan yang jelas mengenai haknya. Tidak ada ruang bagi prasangka. Tidak ada kebingungan mengenai ke mana hasil pengelolaan dana mengalir. Yang ada hanyalah keterbukaan dan rasa percaya. Bukankah kepercayaan adalah aset terbesar dalam pengelolaan dana umat?

 

Saya percaya para pengelola dana haji bekerja dengan niat baik. Namun niat baik saja tidak selalu cukup. Kepercayaan masyarakat juga membutuhkan transparansi yang dapat dilihat, dipahami, dan dirasakan secara nyata.

 

Sebab pada akhirnya, yang dititipkan oleh jutaan calon jamaah bukan sekadar uang.

Di dalam dana itu terdapat doa seorang ayah yang ingin membawa istrinya berhaji. Ada harapan seorang ibu yang menabung sejak anak-anaknya masih kecil. Ada kerja keras para petani, guru, pedagang, nelayan, dan pegawai yang menyisihkan sebagian rezekinya selama bertahun-tahun. Mereka semua sedang menitipkan mimpi. Dan setiap mimpi yang dititipkan adalah amanah yang sangat berharga.

 

Semoga pengelolaan dana haji Indonesia terus berkembang menjadi sistem yang semakin adil, transparan, dan mampu menjaga kepercayaan umat hingga generasi-generasi yang akan datang.

 

Hormat saya, Andriono Kurniawan

Seorang calon tamu Allah yang masih menunggu giliran.